Ditengah kebosanan karantina ini, banyak teman-teman yang bereksperimen dengan berbagai macam olah raga virtual. Dari WOD at home challenges, 30km a day cycle, 31 days of Yoga, dan tentunya (favorit saya)…..tidak melakukan apa-apa selama 1 bulan tanpa merasa bersalah. Semuanya bisa diterima karena karantina ini bukanlah ajang untuk uji produktivitas. Namun tentunya proficiaat bagi yang berhasil!

Datanglah Achilles, seorang triathlete yang memiliki tiga paru-paru. Sekonyong-konyong energi yang ia punya tidak ada batasnya sejak karantina minggu ke 2. Semua tantangan virtual ia jabanin. Didalam benaknya hanya ada satu target yaitu sub-8 hour Ironman. Sayangnya, mimpinya tertahan karena urat betis kanannya sobek.

Latar Belakang

Tiga bulan yang lalu ia bersepeda keliling Jakarta sebanyak 120km. Setelah itu, lari 5 km di Sudirman, setelah itu pulang mandi dan yoga. Keesokan paginya ia melakukan jump-ropes 5 menit (tanpa streching seperti biasa), dan terdengar suara pop yang keras dari betis. Ia terjatuh dan kesakitan. Bergegas ke rumah sakit, ia langsung menjalani tindakan operasi. Ia mengalami Grade 3 Achilles Tendon Tear, dengan ekspektasi kesembuhan 3-6 bulan. Ia menjalani fisioterapi di berbagai tempat selama berbulan0-bulan. Sayangnya, belum menuai hasil sehingga gelas kesabarannya sudah mulai penuh.

Rehabilitasi yang ia dapatkan kurang memuaskan, sehingga mobilitas yang ada masih jauh dari sempurna. Pada pertemuan pertama kami, ia datang dengan kekecewaan dan ekspektasi. Saya hanya bisa angguk-angguk dan berkata, “All is well” macam Rancho di film 3 idiots. Namun, apakah yang sebenarnya terjadi?

Analisis

Ia datang dengan arm crutches, moon boot, dan emosi yang menggebu-gebu. Bekas operasi sudah sembuh secara menyeluruh. Hanya saja, ia belum bisa berjalan dengan sempurna, kekakuan di sekitar ankle dan lutut semakin mengganggu, dan ada pembengkakan di jahitannya yang baru tumbuh 3 hari yang lalu setelah memaksakan dirinya untuk bersepeda lagi. Panik, tentunya, tetapi ia menjaga untuk tidak kelut.

Inisiatif untuk memakai boots dilakukan untuk menambah flexibilitas dorsifleksinya (angkat kaki ke atas). Kekuatan di betis untuk plantarfleksi (jinjit) masih sekitar 50%. Sensitivitas di lokasi jahitan masih terasa saat ditekan.

Hypothesis

Delayed healing process atau proses penyembuhan yang tertunda, merupakan hal yang sangat lumrah terjadi. Tidak bisa kita men-judge bahwa ini semua karena keseringan main faktor A, atau pasti ini karena faktor P, atau bisa jadi gara-gara kemarin makan faktor V—tidak, apabila ini diurai satu per satu maka tiap faktor punya andil tersendiri.

Perlu diingat bahwa Achilles tidak berhenti olah raga selama rehabilitasi betisnya. Ia mengaku berlatih 1 jam untuk rehabnya setiap hari. Terlepas dari itu, ia masih memaksa dirinya untuk terus bersepeda dan rowing 45 menit tiap harinya. Namun apakah itu bijak? Apakah ia menghitung jam istirahat atau recovery yang cukup? Oh ya, dan ia telah lepas boot sejak 4 minggu pasca operasi. Agak terlalu cepat, namun ia merasa bahwa boot itu mengganggu. Test gerakan pasif plantarflexion hanya mencapai 20’ dan dorsiflexion di 5’. Atrophy otot betisnya semakin nampak. 

Terjadi banyak kompensasi di pergerakan sehari-harinya. Dimana shift fungsi pergerakan diambil alih oleh kaki kirinya. Iapun mengakui bahwa badannya semakin miring ke kiri. Walaupun ia banyak fokus untuk menggunakan sisi kanan, pemahamannya masih belum cukup sehingga penyembuhannya belum sempurna.

Treatment Plan

Untuk memulai saya langsung mengajak ia menyadari disfungsi badannya. Berawal dari posisi ia duduk, berdiri, sampai berjalan. Dari situ kami lanjut ke weight bearing. Ia memahami sedikit demi sedikit. Tujuan saya memulai dari weight shift adalah untuk mengajak pasien memahami ketidak seimbangan itu, sekaligus mengajak pasien untuk berinteraksi dengan badan mereka sendiri. You are your own teacher.

Kemudian, saya lanjut ke manual therapy untuk menambah fleksibilitas tiap tendon. Metode Dry needling untuk otot gastrocnemius dan soleus dilakukan, aktivasi otot tibialis anterior dan extensor digitorum longus-brevis, tak lupa otot flexor digitorum dan tibialis posterior juga diajak menari. Ia sedikit bingung karena ia kurang cekatan. Target jangka panjang kami adalah mengembalikan performa betis seperti sedia kala tanpa ada rasa sakit.

Terapi akan berlangsung selama 2 bulan atau 10 kali pertemuan. Setelah itu akan direview performanya.     

Penutup

Perlu dicatat bahwa karakter setiap orang berbeda-beda. Begitu pula dengan kemampuan dan kekuatan mentalnya. Achilles memiliki karakter yang keras, berkesan sombong namun ia tahu bahwa untuk mencapai sub-8 hour ia harus memiliki Mamba Mentality bak mendiang Kobe Bryant.

Namun tak boleh lupa, kita untuk selalu rendah diri. Dimomen delayed healing ini lah kesabaran dan pola pikir kita diuji. Untuk melakukan self-introspection dan self-reflection memang sedikit malesin. Tak mudah, namun perlu dicoba untuk mencegah cedera terjadi kembali.                                                                                                                                                                                                                                                                               

CategoryUncategorized

Join The Discussion

*

Related Articles